Ketika Jalanan Jadi Panggung: Membaca Ulang Gesekan Ojol vs Mahasiswa dari Kacamata Sosiologi
Benturan pengemudi daring dan mahasiswa bukan sekadar ricuh jalanan. Ini cermin retaknya ruang publik, ketimpangan kelas, dan mobilisasi digital yang perlu kita sikapi bijak.

Halo, Sahabat Tenant-15! Mari Kita Bedah Fenomena Jalanan yang Sering Kita Lewatkan
Pernah nggak sih kamu lagi asyik scroll media sosial, lalu tiba-tiba muncul video kericuhan antara pengemudi ojek daring dan sekelompok mahasiswa? Mungkin kita langsung berpikir, "Ah, itu cuma salah paham di jalan." Tapi, tunggu dulu. Sebagai host di podcast ini, saya ingin mengajak kamu melihat lebih dalam. Ternyata, ada lapisan-lapisan sosial yang rumit di balik gesekan itu. Dan percaya atau tidak, ini bukan sekadar insiden lokal—ini adalah potret retaknya ruang publik perkotaan kita.
Nah, dalam episode kali ini, kita akan mengupas tuntas fenomena ini dari kacamata sosiologis. Kita akan bicarakan mengapa dua kelompok yang sebenarnya sama-sama berjuang ini bisa berbenturan, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya. Siap? Mari kita mulai!
Daftar Isi
- Friksi di Jalur yang Sama: Mahasiswa dan Pekerja Platform
- Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
- Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
- Langkah Konkret Pencegahan
Friksi di Jalur yang Sama: Ketika Dua Kepentingan Bertemu
Bayangkan sebuah ruas jalan arteri yang lebar. Di satu sisi, ada mahasiswa yang sedang menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menggunakan badan jalan sebagai panggung untuk menyuarakan aspirasi, menarik perhatian publik, dan menekan pembuat kebijakan. Bagi mereka, jalan adalah ruang artikulasi politik yang sah.
Di sisi lain, ada pengemudi ojek daring yang tengah berjuang mengejar setoran. Mereka bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu, efisiensi rute, dan target harian. Ketika akses jalan terhambat, pendapatan mereka langsung terpotong, dan risiko penalti dari sistem aplikasi menghantui. Ini bukan soal ego, tapi soal bertahan hidup.
Nah, ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi, gesekan kecil bisa cepat memanas. Adu mulut saat melintasi barisan demonstrasi bisa berujung pada perusakan properti dan benturan massal. Pertanyaannya, apakah ini salah satu pihak? Tentu tidak. Ini adalah situasi di mana dua kelompok rentan terjepit oleh sistem yang lebih besar.
Menariknya, fenomena ini juga pernah diulas dalam konteks yang lebih luas. Ada sebuah tulisan berjudul Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus yang menggambarkan bagaimana insiden kekerasan di lingkungan kampus menjadi cermin retaknya komunikasi sosial. Jadi, ini bukan pertama kali kita melihat pola serupa.
Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik
Pernah dengar istilah "solidaritas mekanis" dari Émile Durkheim? Ini adalah konsep sosiologi yang menjelaskan bagaimana masyarakat dengan kesamaan peran dan kondisi bisa dengan cepat merasa terikat satu sama lain. Dalam konteks pengemudi ojek daring, solidaritas ini sangat kentara.
Grup pesan instan yang sehari-hari digunakan untuk berbagi rute atau info darurat bisa berubah seketika menjadi kanal mobilisasi massa. Ketika satu anggota merasa dizalimi, kerugian itu dianggap sebagai ancaman terhadap martabat seluruh komunitas. Belum lagi, penyebaran video pendek tanpa konteks utuh di media sosial semakin mempercepat amarah. Dalam hitungan menit, ratusan pengemudi bisa bergerak menuju lokasi kejadian, melampaui kemampuan negosiasi aparat setempat.
Ini adalah sisi lain dari teknologi yang seharusnya memudahkan hidup. Algoritma yang mengatur kerja juga menciptakan tekanan yang memicu solidaritas defensif. Jadi, ketika kita melihat kericuhan di jalan, itu bukan sekadar emosi sesaat—itu adalah hasil dari sistem yang bekerja tanpa henti.
Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga
Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya sama-sama memikul beban ketidakpastian struktural. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Mereka sama-sama berjuang, tapi mengapa malah berbenturan?
Ini adalah pengingat bagi kita semua: jangan sampai kita terjebak dalam konflik antar-warga yang hanya menguntungkan pihak-pihak yang tidak terlihat. Kita perlu membangun jembatan komunikasi, bukan tembok permusuhan. Sebagai host, saya yakin kita bisa belajar dari kejadian ini dan memilih jalan yang lebih bijak.
Langkah Konkret Pencegahan
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil untuk mencegah peristiwa serupa terulang:
- Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan. Ini soal empati dan tanggung jawab bersama.
- Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak. Jangan sampai emosi sesaat merusak solidaritas yang seharusnya melindungi.
- Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas. Dialog adalah kunci.
Nah, Sahabat Tenant-15, itu tadi pembahasan kita tentang retak ruang publik perkotaan yang tercermin dari gesekan antara pengemudi daring dan gerakan mahasiswa. Kita sudah melihat bahwa ini bukan sekadar perselisihan jalanan, melainkan fenomena sosiologis yang kompleks. Ada perebutan fungsi ruang, kerentanan kelas, dan mobilisasi digital yang perlu kita pahami.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kamu untuk tidak cepat menghakimi. Mari kita tanamkan empati, karena di balik setiap seragam ojol atau jaket almamater, ada manusia yang berjuang. Kita semua punya peran untuk menjaga ruang publik agar tetap aman dan inklusif. Jangan lupa untuk share episode ini kepada teman-temanmu, dan sampai jumpa di obrolan berikutnya! Tetap semangat, tetap positif, dan teruslah belajar dari sekitar kita.
Sumber / Referensi
Daftar Pustaka
Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.
Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.
https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampusCatatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Lensa Jabodetabek.









