PolitikKeuangan

Pesta Mewah vs Laba Ambruk: Ironi Bank Jakarta yang Bikin Geleng Kepala

Di tengah laba yang terus merosot hingga Rp330 miliar, Bank Jakarta justru menggelar pesta megah dengan artis papan atas. Anggota DPRD Justin PSI menilai ini langkah yang tidak bertanggungjawab dan menunjukkan prioritas yang salah.

Penulis:zanfuu
27 April 2026
Pesta Mewah vs Laba Ambruk: Ironi Bank Jakarta yang Bikin Geleng Kepala

Bayangkan Anda sedang berjuang menaikkan nilai investasi perusahaan, tapi tiba-tiba manajemen menggelar pesta mewah dengan artis termahal. Rasanya seperti berenang di lautan masalah, lalu malah membeli kapal pesiar untuk bersantai. Itulah gambaran yang terjadi pada Bank Jakarta, bank milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang menuai kritik tajam dari berbagai kalangan.

Acara Employee Gathering 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Minggu (26/4/2026) ini sukses menyita perhatian publik. Pasalnya, bank tersebut mengundang deretan musisi papan atas seperti Sheila On 7, Wika Salim, dan sederet artis lainnya. Total biaya yang dihabiskan untuk acara ini—mulai dari sewa venue, honor artis, hingga konsumsi—diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada fakta yang membuat kita mengernyitkan dahi: laba Bank Jakarta yang terus merosot selama tiga tahun terakhir.

Dari Rp1 Triliun ke Rp330 Miliar: Sebuah Penurunan yang Mencemaskan

Data dari Laporan Keuangan Tahunan Bank Jakarta menunjukkan tren yang sangat kontras. Pada tahun 2023, bank ini masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,02 triliun, angka yang sangat membanggakan untuk bank daerah. Namun, setahun kemudian, laba tersebut turun drastis menjadi Rp779 miliar. Dan menurut laporan terbaru tahun 2025, angkanya kembali ambles ke level Rp330 miliar. Ini berarti penurunan total mencapai 67,6% hanya dalam waktu dua tahun.

“Ini bukan sekadar angka, ini tanda bahaya,” ujar Justin Adrian Untayana, Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dalam wawancara eksklusif dengan wartawan. “Ketika laba turun seperti ini, pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah: apa prioritas manajemen? Apakah memulihkan kepercayaan nasabah atau malah mengadakan pesta yang tidak jelas dampaknya?”

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perbankan nasional rata-rata berada di kisaran 70-80%. Sementara, jika kita hitung dengan acara mewah seperti ini, kemungkinan BOPO Bank Jakarta justru semakin membengkak. Ini menjadi ironi di tengah upaya efisiensi yang digaungkan oleh banyak bank untuk menjaga margin keuntungan.

Masalah Layanan yang Belum Tuntas: Ketika Pesta Adalah Pelarian

Yang lebih memprihatinkan lagi, Bank Jakarta belum sepenuhnya menyelesaikan masalah sistem layanan yang sempat kolaps pada tahun lalu. Pada periode Maret-April 2025, saat warga Jakarta bersiap menyambut Lebaran dan bertransaksi, sistem perbankan Bank Jakarta justru down. Banyak nasabah yang mengeluh karena tidak bisa melakukan transaksi, bahkan ada yang kehilangan uangnya akibat gangguan sistem. Setelah diusut, ada dugaan serangan siber yang gagal dicegah oleh tim keamanan internal.

“Layanan masih sering error sampai sekarang. Bahkan kadang terjadi saat orang-orang gajian. Bayangkan, Anda baru saja menerima gaji, lalu sistem bank mogok. Itu lebih membuat frustrasi daripada senang,” tambah Justin dengan nada tegas.

Fenomena ini bukan hanya soal teknis, melainkan juga soal kepercayaan. Data dari survei kepuasan nasabah bank daerah tahun 2025 yang dirilis oleh lembaga riset independen menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap Bank Jakarta mengalami penurunan sebesar 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Artinya, masalah sistem ini bukan sekadar gangguan temporer, melainkan ancaman serius terhadap reputasi bank.

Prioritas yang Salah: Antara Selebrasi dan Perbaikan

Jika kita analisis secara mendalam, acara gathering seperti ini sebenarnya bisa menjadi alat untuk meningkatkan motivasi karyawan. Namun, dalam konteks bisnis, ketika laba menurun dan layanan bermasalah, langkah yang lebih bijak adalah melakukan cost cutting yang terukur. Mengapa tidak menggunakan dana tersebut untuk memperbaiki sistem IT, meningkatkan keamanan siber, atau memberikan pelatihan kepada karyawan frontliner?

“Lebih baik uang itu dipakai untuk menyelesaikan masalah internal. Apalagi pendapatan sekarang terbatas. Ini sangat mengecewakan sekaligus memalukan,” tegas Justin.

Dalam teori manajemen krisis yang dikemukakan oleh para ahli, ketika perusahaan menghadapi penurunan kinerja, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengomunikasikan rencana pemulihan kepada publik dan stakeholder, bukan malah menggelar pesta. Langkah seperti ini justru bisa menimbulkan persepsi negatif di mata nasabah dan investor.

Pelajaran untuk Perusahaan Daerah Lainnya

Kasus Bank Jakarta ini seharusnya menjadi cermin bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) lainnya. Di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan perbankan yang semakin ketat, setiap rupiah yang dibelanjakan harus memiliki dampak yang jelas. Bukan hanya untuk euforia sesaat, melainkan untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kuat.

Apakah ini berarti bahwa Bank Jakarta tidak boleh mengadakan acara internal sama sekali? Tentu tidak. Namun, skala acara harus proporsional dengan kondisi keuangan. Misalnya, jika laba sedang turun, cukup adakan acara sederhana di kantor dengan biaya minimal. Jangan sampai kesan kemewahan justru menjadi bumerang yang memperdalam krisis kepercayaan.

Opini Pribadi: Momentum Refleksi atau Ego Manajemen?

Sebagai pengamat kebijakan publik, saya melihat bahwa fenomena ini bukanlah hal yang aneh di Indonesia. Banyak BUMD yang cenderung menghabiskan anggaran untuk kegiatan seremonial ketimbang perbaikan fundamental. Padahal, jika kita lihat dari segi return on investment (ROI), setiap rupiah yang diinvestasikan untuk perbaikan sistem akan menghasilkan efisiensi jangka panjang yang lebih besar.

Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa investasi dalam digitalisasi perbankan di negara berkembang mampu meningkatkan efisiensi operasional hingga 20-30% dalam tiga tahun. Sementara itu, acara gathering mewah hanya memberikan dampak sesaat pada moral karyawan, tapi tidak menyentuh akar masalah.

Saya berharap manajemen Bank Jakarta tidak hanya mendengar kritik, tetapi juga mengambil langkah konkret. Jadikan tekanan publik ini sebagai momentum untuk berbenah. Jangan biarkan ego manajemen mengalahkan akal sehat. Sebab, pada akhirnya, yang akan menanggung akibat adalah warga Jakarta sebagai pemilik saham mayoritas melalui APBD.

Pada akhirnya, pertanyaan besar yang harus dijawab oleh Dewan Komisaris Bank Jakarta adalah: apakah pesta semalam sebanding dengan kehilangan kepercayaan ribuan nasabah? Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya sendiri.

Dipublikasikan: 27 April 2026, 03:18
Diperbarui: 27 April 2026, 03:18
Pesta Mewah vs Laba Ambruk: Ironi Bank Jakarta yang Bikin Geleng Kepala