Analisis Mendalam: Mengapa Prabowo Menilai Geopolitik Global Sebagai Medan Berbahaya dan Implikasinya bagi Indonesia
Telaah kritis atas pernyataan Presiden Prabowo tentang ketidakpastian global. Bagaimana posisi Indonesia dalam peta geopolitik yang bergejolak? Simak analisisnya di sini.

Bayangkan sebuah peta dunia yang dipenuhi oleh titik-titik api konflik, dari Eropa Timur hingga Asia Pasifik, dari Timur Tengah hingga Laut China Selatan. Ini bukan skenario film fiksi ilmiah, melainkan gambaran nyata lanskap geopolitik yang dihadapi para pemimpin dunia hari ini. Dalam pidatonya pada peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto secara gamblang menyoroti realitas pahit ini: dunia kita sedang tidak baik-baik saja. Namun, lebih dari sekadar pernyataan, ucapan beliau membuka ruang untuk analisis mendalam tentang posisi Indonesia di tengah badai ketidakpastian global yang sepertinya semakin menguat.
Dekonstruksi Pernyataan: Lebih dari Sekadar Retorika
Ketika Presiden Prabowo menyatakan bahwa dunia berada dalam kondisi "penuh bahaya" dan "ketidakpastian", serta menyinggung kegagalan sejumlah pemimpin besar dalam menjaga perdamaian, ia sedang menempatkan dirinya dalam sebuah narasi global yang lebih luas. Pernyataan ini tidak muncul dari ruang hampa. Data dari Uppsala Conflict Data Program (UCDP) menunjukkan bahwa pada 2023 saja, terdapat 55 konflik bersenjata aktif di berbagai belahan dunia, angka tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Sementara itu, The Institute for Economics & Peace dalam Global Peace Index 2024 mencatat penurunan tingkat perdamaian global untuk tahun kesembilan berturut-turut. Konteks inilah yang membuat pernyataan Prabowo terdengar bukan sebagai hiperbola, melainkan sebagai refleksi atas data empiris yang mengkhawatirkan.
Posisi Indonesia: Antara Ketahanan Nasional dan Diplomasi Global
Seruan Prabowo untuk menggalang persatuan dan kerukunan di dalam negeri, serta bersama "banyak-banyak bangsa lain", sebenarnya adalah strategi bertahan yang cerdas. Dalam teori hubungan internasional, negara dengan posisi seperti Indonesia—yang bukan merupakan kekuatan besar (great power) namun memiliki pengaruh signifikan (middle power)—sering kali mengadopsi kebijakan omni-enmeshment atau keterlibatan dengan semua pihak. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan (balance) dan menghindari terjerat dalam persaingan kekuatan adidaya. Janji Prabowo untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang latar belakang adalah fondasi utama dari ketahanan nasional. Sebuah negara yang rapuh dari dalam akan sangat rentan terhadap gejolak dan tekanan dari luar.
Di sinilah letak keunikan analisis atas pidato tersebut. Prabowo tidak hanya mengidentifikasi masalah eksternal, tetapi secara implisit menghubungkannya dengan stabilitas internal. Ia seolah mengatakan: ketidakpastian global adalah ancaman eksternal yang hanya bisa dihadapi dengan persatuan yang kokoh sebagai perisai internal. Ini adalah perspektif yang sering terlewatkan dalam diskusi geopolitik yang cenderung fokus pada aliansi dan pakta pertahanan.
Menyoroti "Kegagalan" Kepemimpinan Global: Sebuah Kritik yang Berani
Salah satu poin paling menarik dan mungkin kontroversial dalam pernyataan tersebut adalah kritik terhadap "banyak pemimpin di dunia yang memiliki kekuatan besar" yang dinilai tidak lancar menjaga perdamaian. Dalam diplomasi, jarang seorang kepala negara secara terbuka menyatakan ketidakpuasan terhadap koleganya, meskipun tidak menyebut nama. Pernyataan ini bisa dibaca sebagai bentuk frustrasi terhadap sistem multilateral yang dianggap mandek, atau mungkin juga sebagai cara untuk memposisikan Indonesia dan kepemimpinannya sebagai pihak yang memiliki komitmen berbeda—komitmen pada perdamaian.
Opini pribadi saya, sebagai penulis yang mengamati dinamika global, adalah bahwa pernyataan ini juga merefleksikan pergeseran paradigma. Era di mana kekuatan besar (great powers) memegang kendali penuh atas tata dunia (world order) sedang mendapat tantangan. Negara-negara menengah seperti Indonesia, dengan populasi besar dan ekonomi yang tumbuh, mulai merasa memiliki hak dan tanggung jawab moral untuk bersuara lebih lantang mengenai tata kelola global, terutama ketika mereka yang memiliki kekuatan besar terlihat gagal.
Optimisme yang Terkondisi: Tekad di Tengah Badai
Meski menggambarkan situasi yang suram, pidato Prabowo tidak berakhir dengan pesimisme. Keyakinannya bahwa "yang benar akan menang" dan optimisme bahwa Indonesia akan mencapai cita-cita pembangunannya dengan tekad dan komitmen yang kuat, menunjukkan pola pikir yang penting: agency atau keagenan nasional. Dalam menghadapi ketidakpastian global, negara tidak boleh bersikap pasif sebagai korban keadaan, tetapi harus aktif membentuk nasibnya sendiri. Janjinya untuk bekerja keras menjaga perdamaian adalah manifestasi dari agency tersebut. Perdamaian bukanlah hadiah dari kekuatan lain, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan dan dirawat secara aktif melalui kebijakan dalam negeri yang inklusif dan diplomasi luar negeri yang cerdik.
Refleksi Akhir: Apa Arti Semua Ini bagi Kita?
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari analisis mendalam atas pernyataan Presiden Prabowo ini? Pertama, pengakuan bahwa ketidakpastian global adalah nyata dan berdampak langsung pada keamanan dan kesejahteraan kita. Kedua, bahwa respons terbaik terhadap badai di luar adalah memperkuat pondasi di dalam—persatuan, kerukunan, dan keadilan bagi semua warga negara tanpa terkecuali. Ketiga, bahwa dalam tata dunia yang sedang berubah, Indonesia memiliki peluang untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi untuk mendefinisikan peran barunya sebagai penjaga perdamaian dan penengah (mediator) di kancah regional dan global.
Pernyataan di Istana Negara itu pada akhirnya adalah lebih dari sekadar pidato keagamaan. Ia adalah sebuah foreign policy statement yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna. Ia mengajak kita, sebagai bangsa, untuk melihat ke luar dan menyadari betapa bergejolaknya dunia, sekaligus mendorong kita untuk melihat ke dalam dan memastikan bahwa rumah kita sendiri cukup kuat untuk menghadapi segala terpaan. Di tengah peta dunia yang dipenuhi titik api, komitmen untuk merawat perdamaian di dalam negeri mungkin justru menjadi kontribusi terbesar yang bisa kita berikan untuk dunia yang lebih tenang. Pertanyaannya sekarang adalah: Sudah siapkah kita, sebagai masyarakat, menjadi bagian dari fondasi ketahanan yang disebutkan Presiden tersebut? Jawabannya tidak terletak di Istana, tetapi dalam tindakan kolektif kita sehari-hari.